Wednesday, March 11, 2020

Tidak semua gatal mesti digaruk...

Oleh: B.S. Wiratama

Kenapa? kan gatal? Masak ga boleh garuk? hhhmmm...

Manusia, terkadang bisa saja berada di titik dimana kita harus mengambil keputusan untuk menahan diri dan bisa jadi mengambil sikap untuk diam, tidak melakukan apapun. Orang lain bisa saja tidak setuju dengan pengambilan sikap ini, tapi diri sendiri adalah orang yang paling bertanggungjawab atas diri sendiri. Iya, diri kita sendiri. Reaktif? Tidaaakkk... cukup direspon dengan sepantasnya saja. Pasti ada sesuatu di balik alasan menahan diri ini? Tidak semua gatal mesti digaruk.

Ada kalanya kita dihadapkan pada situasi bahwa kita harus "masuk ke dalam goa" dan mencari jawaban dalam diam. Ada kalanya juga kita harus bersuara lantang menyuarakan suara hati yang tak pernah terungkapkan. Merasa tidak terima, merasa diperlakukan tidak adil, merasa dipecundangi, dan merasa dikalahkan dengan tidak wajar. Normalkah? Nyatanya di kehidupan nyata, hal seperti ini terjadi. Reaktif? Tidaaakkk... cukup direspon dengan sepantasnya saja. Pasti ada sesuatu di balik alasan menahan diri ini? Tidak semua gatal mesti digaruk.

Ada kalanya juga kita diberikan rejeki yang melebihi ekspektasi kita. Ada kalanya juga kita mendapatkan keuntungan yang besar atas usaha yang kita lakukan. Ada kalanya semua suka cita muncul di saat yang bersamaan. Reaktif? Tidaaakkk... cukup direspon dengan sepantasnya saja. Pasti ada sesuatu di balik alasan menahan diri ini? Tidak semua gatal mesti digaruk.

Ada kalanya juga kita memiliki keinginan yang sebenarnya dengan mudahnya bisa dimiliki. Punya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan tanpa harus merepotkan orang lain. Ada kalanya bisa mempunyai hal mustahil dalam sepejaman mata saja. Memiliki kuasa mutlak untuk melakukan apapun, tapi kita harus tetap bisa mengendalikan nafsu ini. Reaktif? Tidaaakkk... cukup direspon dengan sepantasnya saja. Pasti ada sesuatu di balik alasan menahan diri ini? Tidak semua gatal mesti digaruk.

Lalu, seperti apakah sebaiknya kita bersikap? Diamkan saja? Doakan saja? Serang balik dan berlagak seolah-olah kita adalah korban? Tidak tentu juga bahwa ada formula khusus yang bisa kita lakukan untuk menjawab situasi tersebut. Tidak juga jelas yang mana merupakan sikap benar atau tidak benar saat kita mengambil tindakan dan respon atas situasi tersebut. Tidak ada batasan jelas, mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya akan tergantung perspektif, iya sudut pandang dari mana kita melihatnya. Segala norma yang dianggap baik atau buruk pun juga berasal dari perspektif, tidak ada yang mutlak.

Kita punya hak untuk mengambil sikap, kita juga punya hak untuk menentukan respon kita, dan tentunya kita juga punya hak untuk bersikap mengabaikan semuanya. Tidak sepantasnya kita menyimpan dan menambahkan beban pikiran negatif pada otak kita. Tidak sepantasnya kita menambahkan dan memberi ruang merasa bodoh pada hati kita. Tidak sepantasnya kita memberi dan memaksa tangan kita untuk selalu menggenggam beban yang semestinya bisa kita tanggalkan. Ingat, tidak semua gatal mesti digaruk. Kita berhak untuk mendapatkan kebahagiaan bagi kita.

“Iya, tidak semua gatal mesti digaruk. Kita semua berhak bahagia. Iya, semuanya..."



* judul ini terinspirasi pada virus varicella (baca: cacar air) yang penulis alami sekitar medio September 2011.

No comments:

Post a Comment

Search This Blog